Sabtu, 25 Juni 2011

Peminjaman Jaringan KLPSSM Diperpanjang


Persoalan jaringan milik Koperasi Listrik Pedesaan Sinar Siwo Mego (KLPSSM) mendapatkan titik temu. KLPSSM sepakat memperpanjang peminjaman jaringan listriknya untuk setahun ke depan. Diketahui, beberapa waktu lalu, KLPSSM meminjamkan jaringannya selama dua bulan kepada PLN terhitung sejak tanggal 1 Mei. Artinya, pada 30 Juni mendatang, kesepakatan itu berakhir. 

Namun, Asisten Bidang Ekonomi Pembangunan Pemprov Lampung Hanan A. Rozak menjelaskan, nota kesepahaman baru antara KLPSSM dengan PT PLN wilayah Lampung sudah ditandatangani pada 22 Juni lalu.
’’Isinya, diperpanjang 1 tahun dan setiap 6 bulan itu dibahas masalah kontraknya,’’ kata Hanan kemarin (23/6).     

Menurutnya, nanti itu termasuk sewa. Namun, besaran harga sewa tersebut harus dirembukkan antara KLPSSM dengan PLN. ’’Mudah-mudahan 1 tahun selesai,’’ harapnya.

Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Lampung M. Ishak menambahkan, proses penandatanganan nota kesepahaman (MoU) itu berlangsung di Kementerian Koperasi dan UKM. Selain dirinya, penandatanganan juga disaksikan Deputi Kementerian Bidang Koperasi Braman Setyo dan Direktur Operasi Wilayah Bagian Barat PLN Hary Jaya Pahlawan.

Dalam MoU, PLN wilayah Lampung diwakili oleh GM PLN Lampung I Gusti Agung Suteja dan bertindak sebagai pihak pertama. Sementara KLPSSM diwakili oleh Ketua KLPSSM Djuanidy Sunardi. MoU pihak pertama bernomor 0572/MoU/wil-LPG/2011. Sementara MoU kedua bernomor 110/klpssm/LT/VI/2011. ’’Ini tentang pemanfaatan jaringan KLPSSM oleh PT PLN wilayah Lampung,’’ terang Ishak.

Dilanjutkan, meski tak tertuang dalam nota kesepahaman, semua pihak sepakat KLPSSM harus tetap eksis. ’’Bisa bergerak di bidang hulu. Jadi harus mempunyai produksi sendiri. Ya mungkin caranya dengan menggandeng pihak ketiga,’’ ujarnya.

Sebelumnya, Kementerian Koperasi dan UKM memang berjanji memediasi persoalan KLPSSM dan PLN Lampung. Menteri Koperasi Syarif Hasan optimistis persoalan KLPSSM bisa terselesaikan. Mantan anggota DPR itu menyatakan, yang terpenting dari persoalan ini adalah keputusan dasar yang telah diambil.

Yakni peralihan listrik pada tanggal 1 Mei lalu. Persoalan lainnya, menurut Syarif, jika didasarkan pada kepentingan rakayt, maka akan ada jalan keluar yang dihasilkan. Kementerian, imbuh dia, juga akan membantu menyelesaikan permasalahan tersebut.

’’Yang terpenting adalah keputusan dasarnya dahulu. Semua keputusan itu jika didasarkan pada kepentingan rakyat, pasti tepat. Bahwa ada persoalan, kita selesaikan saja. Kan begitu,’’ katanya usai bertemu Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P., unsur Fokorpimda Lampung, pihak PLN Lampung, dan KLPSSM beberapa waktu lalu.

Syarif menilai dalam permasalahan KLPSSM ada saluran yang tersumbat. ’’Jadi permasalahan itu ada bottlenecking,’’ ujarnya. (wdi/c1/ary)

Kamis, 23 Juni 2011

Harapan untuk kota Jakarta

Ondel-ondel kebanggaan Jakarta
Jakarta sekarang udah tua, 484 tahun. Usia yang cukup tua untuk ukuran sebuah kota metropolitan. Seperti kata pepatah “semakin tinggi sebua pohon, maka semakin kencang angin yang meniupnya”. Diusianya yang sudah tidak muda lagi, Jakarta seolah tidak lepas dari berbagai masalah yang cukup runyam untuk di uraikan. Betapa tidak mulai dari masalah ekonomi, masalah social, masalah lingkungan, masalah kultur, dan masalah politik seakan sudah menjadi santapan rutin penduduk Jakarta yang selalu menyisakan masalah yang tak terselesaikan.

Masalah ekonomi adalah masalah yang paling mendasar dari semua masalah yang ada.  Jika saja ekonomi masyarakat Jakarta bisa 2 tingkat lebih baik dari saat ini, maka mungkin wajah Jakarta tidak akan lebih tua dari sekarang ini. Masalah ekonomi menelurkan masalh-masalah baru seperti pengangguran, munculnya kampung kumuh, sikap hidup masyarakat Jakarta yang acuh terhadap lingkungan, kesenjangan antara penguasa-pengusaha-dan rakyat jelata semakin curam, dan masih banyak masalah lainnya.

Ondel-ondel
Jakarta selalu identik dengan kemacetan parah di sepanjang jalan utamanya. Kemacetan ini banyak sekali sebabnya, misalnya saja luas jalan yang tidak sesuai dengan jumlah kendaraan, kecelakaan, amblesnya jalan, adanya demo masal, bus way, dan lain-lain.

Jakarta oh Jakarta kota metropolitan yang aneh. Jakarta dengan luas tak lebih dari 1/8 pulau jawa di huni dan di datangi jutaan pasang mata setiap tahunnya, meski  upaya telah banyak dilakukan pemerintah namun ledakan penduduk di kota Jakarta seolah tak dapat di hindarkan. Iming-iming factor ekonomilah penyebabnya.

Untuk factor  Sosial, cobalah tengok di senanyan. Apa yang anda lihat? Kemewahan, kepalsuan, politik praktis, senyum palsu para pejabat, janji-janji ompong, korupsi dll. Sekarang coba palingkan wajah anda ke sepanjang pinggiran sungai ciliwung. Ya mulai dari sampah, rumah kumuh, kemelaratan, dll bisa anda saksikan disini.

Tak banyak harapan pada kota Jakarta tercinta, hanya saja jika keajaiban  datang apa yang anda inginkan? Apakah kesenjangn social menghilang?  Atau tanah Jakarta yang meninggi sehingga Jakarta tidak akan hilang? Atau lingkungan yang kumuh berubah seperti senayan? Semua itu bisa kita wujudkan jika kita mau berusaha. 

 
Design by Free WordPress Themes | Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons